40. Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani QS



Beliau dilahirkan di Larnaka, Siprus, pada hari Ahad, tanggal 23 April 1922 – atau 26 Sya'ban 1340 H. Dari sisi ayah, beliau adalah keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani QS, pendiri Tarekat Qadiriah. Dari sisi ibunya, beliau adalah keturunan Jalaluddin Rumi QS, pendiri Tarekat Mawlawiyyah, yang juga merupakan keturunan Hassan AS—Hussein AS, cucu Nabi Muhammad SAW. Selama masa kanak-kanak di Siprus, beliau selalu duduk bersama kakeknya, salah seorang Syekh Tarekat Qadiriah untuk belajar spiritualitas dan disiplin. Tanda-tanda luar biasa telah tampak pada Syekh Nazim QS kecil, tingkah lakunya sempurna. Tidak pernah berselisih dengan siapa pun, beliau selalu tersenyum dan sabar. Kedua kakek dari pihak ayah dan ibunya melatih beliau pada jalan spiritual.

Ketika remaja, Syekh Nazim QS sangat diperhitungkan karena tingkat spiritualnya yang tinggi. Setiap orang di Larnaka mengenal beliau, karena dengan usia yang masih amat muda mampu menasihati orang-orang, meramal masa depan dan dengan spontan membukanya. Sejak umur 5 tahun sering ibundanya mencarinya, dan didapati beliau sedang berada di dalam masjid atau di makam Ummu Hiram RA, salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang berada di sebelah masjid. Banyak sekali turis mendatangi makam tersebut karena tertarik akan pemandangan sebuah batu yang tergantung di atas makam itu.

Ketika sang ibu mengajaknya pulang, beliau mengatakan, “Biarkan aku di sini dengan Ummu Hiram RA, beliau adalah leluhur kita.”

Biasanya terlihat Syekh Nazim QS sedang berbicara, mendengarkan dan menjawab seperti berdialog dengannya. Bila ada yang mengusiknya, beliau mengatakan, “Biarkan aku berdialog dengan nenekku yang ada di makam ini.”

Ayahnya mengirim beliau ke sekolah umum pada siang hari dan sorenya belajar ilmu-ilmu agama. Beliau seorang yang jenius di antara teman-temannya. Setelah tamat sekolah (setara SMU) Syekh Nazim QS menghabiskan malam harinya untuk mempelajari Tarekat Mawlawiyyah dan Qadiriah. Beliau mengikuti shuhba Tarekat Mawlawiyyah dan Qadiriah pada hari Kamis dan Jumat.

Putra-putri keluarga Adil. Syekh Nazim QS muda berada di kiri luar, pada usia 16 tahun.

Beliau mempelajari ilmu syariah, fiqih, ilmu hadis, ilmu logika dan tafsir Qur’an. Beliau mampu memberikan penjelasan hukum tentang masalah-masalah Islam secara luas. Beliau juga mampu berbicara bagi orang-orang dari segala tingkatan spiritual. Beliau diberi kemampuan untuk menjelaskan masalah-masalah yang sulit dalam bahasa yang jelas dan mudah.

Setelah tamat SMU di Siprus, Syekh Nazim QS pindah ke Istanbul pada tahun 1359 H/1940, di mana kedua saudara laki-laki dan seorang saudara perempuannya tinggal. Beliau belajar teknik kimia di Universitas Istanbul, di daerah Bayazid. Pada saat yang sama beliau memperdalam hukum Islam dan bahasa Arab pada guru beliau, Syekh Jamaluddin al-Lasuni QS, yang meninggal pada th 1375 H/1955 M. Syekh Nazim QS meraih gelar sarjana pada teknik kimia dengan hasil memuaskan dibanding teman-temannya. Ketika Professor di universitasnya memberi saran agar melakukan penelitian, beliau mengatakan, ”Saya tidak tertarik dengan ilmu modern. Hati saya selalu tertarik pada ilmu-ilmu spiritual.”

Sebagai seorang mahasiswa, Syekh Nazim QS muda meraih nilai yang sangat memuaskan di bidang Teknik Kimia di University of Istanbul.

Selama tahun pertama di Istanbul, beliau bertemu dengan guru spiritual pertamanya, Syekh Sulayman Arzurumi QS, seorang Syekh dari Tarekat Naqsybandi yang meninggal pada tahun 1368 H/1948 M. Sambil kuliah Syekh Nazim QS belajar pada beliau sebagai tambahan dari ilmu Tarekat yang telah dimilikinya yaitu Mawlawiyyah dan Qadiriah. Biasanya beliau akan terlihat di masjid Sultan Ahmad, bertafakur sepanjang malam.

Syekh Nazim QS menuturkan,

“Di sana aku menerima barakah dan kedamaian hati yang luar biasa. Aku salat subuh bersama kedua guruku, Syekh Sulayman Arzurumi QS dan Syekh Jamaluddin al-Lasuni QS Mereka mengajariku dan meletakkan ilmu spiritual dalam hatiku. Aku mendapat banyak pengelihatan spiritual agar pergi menuju Damaskus, tetapi hal itu belum diizinkan. Sering aku melihat Nabi Muhammad SAW memanggilku menuju ke hadapannya. Ada hasrat yang mendalam agar aku meninggalkan segalanya dan untuk pindah menuju kota suci Nabi SAW.

Suatu hari ketika hasrat hati ini semakin kuat, aku diberi “pengelihatan” itu. Guruku, Syekh Sulayman Arzurumi QS datang dan menepuk pundakku sambil mengatakan, ’Sekarang izin sudah turun. Rahasia-rahasia, amanat, dan ajaran spiritualmu bukan ada padaku. Aku menahanmu karena amanat sampai engkau siap bertemu dengan guru sejatimu yang juga guruku sendiri yaitu Syekh Abdullah ad-Daghestani QS. Beliau adalah pemegang kunci-kuncimu. Temui beliau di Damaskus. Izin ini datang dariku dan berasal dari Nabi SAW.’ (Syekh Sulayman Arzurumi QS adalah salah satu dari 313 awliya Tarekat Naqsybandi yang mewakili 313 utusan).

Pengelihatan itu pun berakhir. Aku mencari guruku untuk menceritakan pengalaman itu. Dua jam kemudian aku melihat Syekh menuju masjid, aku berlari menghampirinya. Beliau membuka kedua tangannya dan berkata, ”Anakku, bahagiakah engkau dengan pengelihatan itu?” Aku sadar bahwa beliau juga telah mengetahui segalanya. “Jangan tunggu lagi, segera berangkat ke Damaskus.” Beliau bahkan tidak memberiku alamat atau informasi lain, kecuali sebuah nama: Syekh Abdullah ad-Daghestani QS di Damaskus.

Dari Istanbul ke Aleppo aku naik kereta. Selama perjalanan aku masuk dari satu masjid ke masjid lain, salat, duduk dengan para ulama dan menghabiskan waktu untuk ibadah dan tafakkur.

Kemudian aku menuju Hama, kota kuno mirip Aleppo. Aku berusaha untuk langsung menuju Damaskus, namun mustahil. Perancis yang saat itu menduduki Damaskus sedang mempersiapkan diri akan serangan pihak Inggris. Jadi aku pergi ke Homs di mana ada makam Khalid bin Walid RA, sahabat Nabi SAW. Ketika aku memasuki masjid untuk salat, seorang pelayan mendatangiku dan mengatakan, ‘Aku bermimpi tadi malam, Nabi SAW mendatangiku. Beliau mengatakan, “Salah satu cucuku akan datang esok hari. Jagalah dia demi aku.” Beliau memberi petunjuk bagaimana ciri-ciri cucu beliau yang sekarang aku lihat semuanya ada pada dirimu.’

Dia memberiku sebuah kamar di dalam masjid itu di mana aku menetap selama setahun. Aku tidak pernah keluar kecuali untuk salat dan duduk ditemani oleh 2 ulama Homs yang mumpuni, mereka mengajar bacaan Al-Qur’an, tafsir, fiqih dan tradisi-tradisi Islam. Mereka adalah Syekh Muhammad Ali Uyun as-Sud QS dan Syekh Abdul Aziz Uyun as-Sud QS. Di sana, aku juga mengikuti pelajaran-pelajaran dari dua Syekh Naqsybandi, Syekh Abdul Jalil Murad QS dan Syekh Said as-Suba’i QS. Hatiku semakin menggebu untuk segera tiba di Damaskus, namun karena perang masih berkecamuk maka kuputuskan untuk menuju Tripoli di Lebanon, dari sana menuju Beirut lalu ke Damaskus lewat jalur yang lebih aman.

Pada tahun 1364 AH/1944 M, Syekh Nazim QS pergi ke Tripoli dengan bis. Bis ini membawa beliau sampai ke pelabuhan yang masih asing, dan tidak seorang pun dikenalnya. Ketika berjalan mengelilingi pelabuhan, beliau melihat seseorang dari arah berlawanan. Orang itu adalah Mufti Tripoli yang bernama Syekh Munir al-Malek QS. Beliau juga merupakan Syekh atas semua Tarekat Sufi di kota itu.

“Apakah engkau Syekh Nazim QS? Aku bermimpi di mana Nabi SAW mengatakan, ‘Salah satu cucuku tiba di Tripoli.’ Beliau tunjukkan gambaran sosokmu dan menyuruhku mencarimu di kawasan ini. Nabi SAW menyuruhku agar menjagamu.“

Syekh Nazim QS memaparkan hal ini,

Aku tinggal dengan Syekh Munir al-Malek QS selama sebulan. Beliau mengatur perjalananku menuju Homs untuk kemudian dilanjutkan ke Damaskus. Aku tiba di Damaskus pada hari Jum’at tahun 1365 H /1945 awal tahun Hijriah. Aku tahu bahwa Syekh Abdullah ad-Daghestani QS tinggal di wilayah Hayy al-Maidan, dekat dengan makam Bilal al-Habashi RA dan banyak keturunan dari keluarga Nabi SAW. Sebuah daerah kuno yang penuh dengan monumen-monumen bersejarah.

Aku pun tidak tahu yang mana rumah Syekh Abdullah QS. Sebuah pengelihatan datang ketika aku berdiri di pinggir jalan; Syekh keluar dari rumahnya dan memanggilku untuk masuk. Pengelihatan itu segera lenyap, dan tetap tak kulihat siapa pun di jalanan. Keadaan tampak senyap akibat invasi orang-orang Perancis dan Inggris. Penduduk ketakutan dan bersembunyi di dalam rumah masing-masing. Aku sendirian dan mulai berkontemplasi di dalam hati untuk mengetahui yang mana rumah Syekh Abdullah QS. Sekilas gambaran itu muncul, sebuah rumah dengan sebuah pintu yang spesifik. Aku berusaha mencari sampai akhirnya ketemu. Ketika akan kuketuk, Syekh membuka pintu rumah menyambutku, ”Selamat datang anakku, Nazim Effendi QS.”

Penampilannya yang tidak biasa segera menarik hatiku. Tidak pernah aku bertemu dengan Syekh yang seperti itu sebelumnya. Cahaya terpancar dari wajah dan keningnya. Kehangatan yang berasal dari dalam hatinya dan dari senyuman di wajahnya. Beliau mengajakku ke lantai atas dengan menaiki tangga di dalam kamar beliau, “Kami sudah menunggumu.”

Di dalam hati, aku sangat bahagia bersamanya, namun masih ada hasrat untuk mengunjungi kota Nabi SAW. Aku bertanya pada beliau, ”Apa yang harus kulakukan?” Beliau menjawab, ”Besok akan aku beri jawaban, sekarang waktumu untuk istirahat!” Beliau menawari makan malam lalu kami salat Isya berjamaah, kemudian tidur.

Pagi-pagi sekali beliau membangunkan aku untuk melakukan salat. Tidak pernah aku merasakan kekuatan luar biasa seperti cara beliau beribadah. Aku merasa sedang berada dihadapan Ilahi dan hatiku semakin tertarik akan beliau. Kembali sebuah ‘pengelihatan’ terlintas. Aku melihat diriku sendiri menaiki sebuah tangga dari tempat kami salat menuju ke Bayt al-Mamur, Ka’bah surgawi, setingkat demi setingkat. Setiap tingkat yang kulalui adalah maqam yang diberikan Syekh kepadaku. Di setiap maqam aku menerima pengetahuan di dalam hatiku yang sebelumnya tidak pernah aku dengar ataupun aku pelajari. Kata-kata, frase, kalimat diletakkan sekaligus dalam cara yang indah, di alirkan menuju ke dalam hatiku, dari maqam ke maqam sampai terangkat menuju Bayt al-Makmur. Di sana aku melihat 124.000 (seratus dua puluh empat ribu) nabi berbaris melakukan salat, dan Nabi Muhammad SAW sebagai imamnya.

Aku melihat 124.000 sahabat Nabi SAW yang berbaris di belakang beliau. Aku melihat 7007 awliya Tarekat Naqsybandi berdiri di belakang mereka sedang salat. Aku juga melihat 124.000 awliya Tarekat lain berbaris melaksanakan salat.

Sebuah tempat sengaja disisakan untuk dua orang tepat di sebelah Abu Bakar ash-Shiddiq RA. Grandsyekh mengajakku menuju tempat itu dan kami pun melaksanakan salat subuh. Suatu pengalaman beribadah yang sangat indah. Ketika Nabi SAW memimpin salat itu, bacaan yang dikumandangkan beliau sungguh syahdu. Tidak ada kata-kata yang mampu melukiskan pengalaman itu, sesuatu yang Ilahiah.

Begitu salat selesai, pengelihatan itu pun berakhir, tepat ketika Syekh menyuruhku untuk melakukan azan subuh. Beliau salat di depan dan aku di belakangnya. Dari arah luar aku mendengar suara peperangan antar 2 pihak pasukan tentara. Grandsyekh segera membay’at-ku di dalam Tarekat Naqsybandi, beliau berkata, ‘Anakku, kami mempunyai kekuatan untuk bisa membuat seorang murid mencapai maqamnya dalam waktu sedetik saja.’ Sambil melihat ke arah hatiku, kedua mata beliau berubah dari kuning menjadi merah, lalu berubah putih, kemudian hijau dan akhirnya hitam. Perubahan warna itu berhubungan dengan ilmu-ilmu yang dipancarkan ke dalam hatiku.

Pertama adalah warna kuning yang menunjukkan maqam ‘hati/qalbu’. Beliau alirkan segala jenis pengetahuan eksternal yang diperlukan untuk melaksanakan kehidupan manusia sehari-hari.

Yang kedua adalah maqam ‘rahasia/sirr’, pengetahuan dari seluruh 40 Tarekat yang berasal dari Ali bin Abi Talib RA. Aku rasakan diriku menjadi pakar dalam seluruh Tarekat-Tarekat ini. Mata beliau berubah warna menjadi merah saat hal ini terjadi. Tahap yang ketiga adalah tingkatan ‘sirr as-sirr’ yang hanya diizinkan bagi para Syekh Naqsybandi dengan imamnya Abu Bakar RA. Saat itu mata Grandsyekh telah berubah menjadi putih.

Maqam keempat yaitu ‘pengetahuan spiritual tersembunyi/khafa’ di mana saat itu mata beliau berubah warna menjadi hijau.

Terakhir adalah tahap akhfa, maqam yang paling rahasia di mana tak ada apa pun yang nampak di sana. Mata beliau berubah menjadi hitam, dan di sinilah beliau mengantarku menuju Hadirat Allah SWT. Kemudian Grandsyekh mengembalikan aku lagi pada eksistensiku semula.

Rasa cintaku pada Grandsyekh begitu meluap, sehingga tidak terbayangkan bila harus berjauhan dengannya. Aku tak menginginkan apa pun kecuali agar bisa berdekatan dan melayani beliau selamanya. Namun perasaan damai itu terasa disambar oleh petir, badai dan tornado. Ujian yang sungguh luar biasa dan membuatku putus asa ketika kemudian beliau mengatakan, ‘Anakku, orang-orangmu membutuhkanmu. Aku telah cukup memberimu untuk saat ini. Pergilah ke Siprus hari ini juga.’

Aku jalani satu setengah tahun agar bisa bertemu dengan beliau. Aku lewatkan satu malam bersama beliau. Kini beliau memintaku untuk kembali ke Siprus, sebuah tempat yang telah kutinggalkan selama 5 tahun. Perintah yang amat mengerikan bagiku, namun dalam Tarekat Sufi, seorang murid harus menyerah pada kehendak Syekh-nya. Setelah mencium tangan dan kaki beliau sambil meminta izin, aku mencoba menemukan jalan menuju Siprus.

Perang Dunia II akan segera berakhir dan sama sekali tidak ada sarana transportasi. Ketika aku sedang memikirkan jalan keluarnya, seseorang menghampiriku, ‘Syekh, anda butuh tumpangan?’ ‘Ya! Ke mana tujuan anda?’ Aku balik bertanya. ‘Ke Tripoli,’ jawabnya. Kemudian dengan truknya, setelah 2 hari perjalanan, kami pun sampai di Tripoli. ‘Antarkan aku sampai pelabuhan,’ kataku. ‘Buat apa?’ ‘Agar bisa naik kapal ke Siprus.’ ‘Bagaimana bisa? Tak ada yang bepergian lewat laut saat perang seperti ini.’ ‘Tidak apa-apa. Antarkan aku ke sana.’ Ketika dia menurunkanku di pelabuhan, aku kembali terkejut ketika Syekh Munir al-Malek QS menghampiriku. Kata beliau, ‘Cinta macam apakah yang dimiliki kakekmu padamu? Nabi SAW datang lagi lewat mimpiku dan mengatakan, ‘Cucuku, si Nazim QS akan segera tiba, jagalah dia.’

Aku tinggal bersama Syekh Munir QS selama 3 hari. Aku memintanya untuk mengatur perjalananku sampai ke Siprus. Beliau telah berusaha, namun karena keadaan perang dan minimnya bahan bakar, maka hal itu sangat mustahil. Akhirnya hanya ada sebuah perahu. ‘Kamu bisa pergi, tetapi amat berbahaya!’ kata Syekh Munir QS. ‘Tetapi aku harus pergi, ini adalah perintah Syekh-ku.’ Syekh Munir QS membayar sejumlah besar uang pada pemilik perahu untuk membawaku. Kami berlayar selama 7 hari agar sampai ke Siprus, yang normalnya hanya memakan waktu 2 hari saja dengan perahu motor. Segera setelah sampai di daratan Siprus, pengelihatan spiritual terlintas dalam hatiku.

Aku merasa Grandsyekh Abdullah ad-Daghestani QS mengatakan padaku, ‘Oh anakku, tidak seorang pun mampu menahanmu membawa amanatku. Engkau telah banyak mendengar dan menerima. Mulai detik ini aku akan selalu dapat terlihat olehmu. Setiap engkau arahkan hatimu padaku, aku akan selalu berada di sana. Segala pertanyaan yang engkau ajukan akan dijawab langsung, berasal dari Hadirat Ilahi. Segala tingkatan spiritual yang ingin engkau capai, akan dianugerahkan kepadamu karena penyerahan totalmu. Semua awliya puas denganmu, Nabi SAW pun bahagia akan dirimu.’

Ketika hal itu terjadi, aku merasakan Syekh ada di sisiku dan sejak saat itu beliau tidak pernah meninggalkanku. Beliau selalu berada di sampingku.

Syekh Nazim QS mulai menyebarkan bimbingan spiritual dan mengajar agama Islam di Siprus. Banyak murid yang mendatangi beliau dan menerima Tarekat Naqsybandi. Namun sayang, waktu itu semua agama dilarang di Turki dan karena beliau berada di dalam komunitas orang-orang Turki di Siprus, agama pun dilarang di sana. Bahkan mengumandangkan azan pun tak diperbolehkan.

Langkah beliau yang pertama adalah menuju masjid di tempat kelahirannya dan mengumandangkan azan di sana, segera beliau dimasukkan penjara selama seminggu. Begitu dibebaskan, Syekh Nazim QS pergi menuju masjid besar di Nikosia dan melakukan azan di menaranya. Hal itu membuat para pejabat marah dan beliau dituntut atas pelanggaran hukum. Sambil menunggu sidang, Syekh Nazim QS terus mengumandangkan azan di menara-menara masjid di seluruh Nikosia. Sehingga tuntutannya pun terus bertambah, ada 114 kasus yang menunggu beliau. Pengacara menasihati beliau agar berhenti melakukan azan, namun Syekh Nazim QS mengatakan, “ Tidak, aku tidak bisa. Orang-orang harus mendengar panggilan untuk salat.”


Syekh Nazim QS sebagai murid muda dari Grandsyekh `Abdullah ad-Daghestani QS

Hari persidangan tiba. Jika tuntutan 114 kasus itu terbukti, beliau bisa dihukum 100 tahun penjara. Pada hari yang sama hasil pemilu diumumkan di Turki. Seorang laki-laki bernama Adnan Menderes dicalonkan untuk berkuasa. Langkah pertamanya ketika terpilih menjadi Presiden adalah membuka seluruh masjid-masjid dan mengizinkan azan dikumandangkan dalam bahasa Arab. Itulah keajaiban Syekh kita.

Selama bertahun-tahun di sana, beliau mengadakan perjalanan ke seluruh penjuru Siprus. Beliau juga mengunjungi Libanon, Mesir, Saudi Arabia dan tempat-tempat lain untuk mengajar Tarekat Sufi. Syekh Nazim QS kembali ke Damaskus pada tahun 1952, ketika beliau menikahi salah satu murid Grandsyekh Abdullah QS yaitu Hajah Amina Adil QS. Sejak saat itu beliau tinggal di Damaskus dan mengunjungi Siprus setiap tahunnya, yaitu selama 3 bulan pada bulan Rajab, Sya’ban dan Ramadan.

Syekh Nazim QS dan keluarganya tinggal di Damaskus. Keluarganya selalu menyertai bila Syekh Nazim QS pergi ke Siprus. Syekh Nazim QS mempunyai dua anak perempuan dan dua anak laki-laki.


Perjalanan Syekh Nazim QS

Syekh Nazim QS pergi haji setiap tahunnya untuk memimpin kelompok orang-orang Siprus. Beliau melaksanakan ibadah haji sebanyak 27 kali. Beliau menjaga murid-muridnya dan sebagai pengikut Grandsyekh Abdullah QS.

Suatu saat Grandsyekh mengatakan padanya agar pergi ke Aleppo dari Damaskus dengan berjalan kaki, dan berhenti di setiap desa untuk menyebarkan Tarekat Naqsybandi, ajaran sufisme dan ajaran Islam. Jarak antara Damaskus menuju Aleppo sekitar 400 kilometer. Butuh waktu lebih dari satu tahun untuk perjalanan pergi dan kembali. Syekh Nazim QS berjalan kaki selama satu atau dua hari. Ketika sampai di sebuah desa, beliau tinggal di sana selama seminggu untuk menyebarkan Tarekat Naqsybandi, memimpin zikir, melatih penduduk dan melanjutkan perjalanan beliau sampai ke desa selanjutnya. Nama beliau pun mulai terdengar di setiap lidah orang-orang, mulai dari perbatasan Yordania sampai perbatasan Turki dekat Aleppo.

Hal yang sama diperintahkan dan dijalankan oleh Syekh Nazim QS agar berjalan kaki ke Siprus. Dari desa satu menuju desa lainnya, menyeru orang agar kembali pada Tuhannya dan meninggalkan segala materialisme, sekularisme dan atheisme.

Beliau amat dicintai di seluruh Siprus, dan masyhur dengan sebutan ‘Syekh Nazim QS berturban hijau/Syekh Nazim Yesilbas QS’ karena turban dan jubahnya yang berwarna hijau.

Syekh Nazim QS di rumah beliau di Siprus

Beliau sering mengunjungi Libanon, di mana kami mengenal beliau. Pada tahun 1955, saya berada di kantor paman saya, yang menjabat sebagai sekjen urusan agama di Libanon, sebuah jabatan yang tinggi dalam pemerintahan. Ketika itu tiba waktunya Salat Ashar dan paman saya, Syekh Mukhtar Alayli QS sering melakukan salat di masjid al-Umari al-Kabir di Beirut. Di sana ada juga gereja pada masa Umar bin al-Khattab RA, yang telah berubah menjadi masjid pada masa beliau. Di bawah tanah masjid masih terdapat fondasi gereja. Paman saya menjadi imam dan saya beserta dua saudara saya salat di belakang beliau.

Seorang Syekh datang dan salat di sebelah kami. Kemudian orang itu melihat kedua kakak saya dan menyebut nama-nama mereka, selanjutnya menoleh ke arah saya dan menyebutkan nama saya. Kami amat terkejut, karena kami tidak saling mengenal sebelumnya. Paman saya juga tertarik pada beliau. Itulah pertama kali kami bertemu Syekh Nazim QS. Kakak tertua saya bersikeras untuk mengajak Syekh Nazim QS dan paman untuk menginap di rumah kami.

Syekh Nazim QS mengatakan, “Saya dikirim oleh Syekh Abdullah QS. Beliau yang mengatakan, ‘Setelah Salat Ashar nanti, yang ada di sebelah kananmu bernama ini dan yang lain bernama ini. Ajaklah mereka masuk Tarekat Naqsybandi. Mereka akan menjadi pengikut kita.‘“ Kami masih amat muda dan kagum akan cara beliau mengetahui nama-nama kami.

Sejak saat itu beliau mengunjungi Beirut secara rutin. Kami pergi ke Damaskus setiap minggunya, dengan cara memohon pada ayah kami agar diizinkan mengunjungi Grandsyekh. Saya dan kakak saya menerima banyak pengetahuan spiritual dan menyaksikan kekuatan-kekuatan ajaib yang dialirkan pada hati kami, para pencari.

Rumah Syekh Nazim QS tidak pernah sepi dari pengunjung. Sedikitnya seratus orang silih berganti mengunjungi rumah beliau setiap harinya dan dilayani dengan baik. Rumah beliau dekat dengan rumah Grandsyekh di Jabal Qasiyun, sebuah pegunungan yang tampak dari kotanya, di sebelah tenggara Damaskus. Rumah semen beliau yang sederhana dengan segala perabot dibuat dari tangan dengan bahan kayu atau bahan-bahan alami lain.

Mulai tahun 1974, beliau mengunjungi Eropa. Dari Siprus menuju London dengan pesawat dan kembalinya mengendarai mobil lewat jalan darat. Beliau melanjutkan pertemuan dengan setiap kalangan masyarakat dari berbagai daerah, bahasa, adat sampai keyakinan yang berbeda-beda. Orang-orang mulai mengucap kalimat Tauhid dan bergabung dengan Tarekat Sufi dan belajar tentang rahasia-rahasia spiritual dari beliau. Senyum dan wajahnya yang bersinar amat dikenal di seluruh benua Eropa dan disayangi karena membawa cita rasa spiritualitas yang sebenarnya dalam kehidupan masyarakat.

Tahun-tahun selanjutnya, beliau melakukan perjalanan kaki di wilayah negara Turki. Sejak tahun 1978, beliau habiskan tiga sampai empat bulan di setiap daerah di Turki. Dalam setahun beliau bepergian di daerah Istanbul, Yalova, Bursa, Eskisehir dan Ankara. Di lain kesempatan beliau mengunjungi Konya, Isparta dan Kirsehir. Tahun berikutnya mengunjungi pesisir selatan dari Adana menuju Mersin, Alanya, Izmir dan Antalya. Kemudian di tahun berikutnya beliau bepergian ke sisi timur, Diyarbakir, Erzurm sampai perbatasan Irak. Kemudian kunjungan selanjutnya adalah di laut hitam, bergerak dari satu wilayah ke wilayah lainnya, dari kota menuju kota lain, dari masjid ke masjid mensyiarkan firman-firman Allah SWT dan spiritualitas di mana pun beliau berada.

Di mana pun Syekh Nazim QS pergi, beliau disambut oleh kerumunan massa dari yang sederhana sampai pejabat pemerintahan. Beliau masyhur dengan sebutan ‘Al-Qubrusi’ di seluruh Turki. Syekh Nazim QS merupakan Syekh dari Presiden Turki terakhir, Turgut Ozal yang amat menghormati beliau. Akhir-akhir ini Syekh Nazim QS terkenal karena pemberitaan yang luas dari media dan pers. Beliau diwawancarai hampir setiap minggu oleh berbagai stasiun TV dan reporter yang menanyakan tentang berbagai kejadian serta masa depan Turki. Beliau mampu menjembatani antara pemerintahan yang sekuler dan kelompok Islam fundamental, seperti yang diajarkan oleh Nabi SAW sehingga tercipta kedamaian di setiap hati dan pikiran dari kedua belah pihak, baik kalangan awam maupun yang cerdas sekalipun.

Tahun 1986, beliau terpanggil untuk mengadakan perjalanan menuju Timur Jauh: Brunei, Malaysia, Singapura, India, Pakistan, dan Sri Lanka. Beliau diterima baik oleh para Sultan, Presiden, anggota parlemen, pejabat pemerintah dan tentu saja rakyat pada umumnya. Beliau di sebut sebagai orang suci zaman ini di Brunei. Beliau disambut dengan kemurahan rakyat dan khususnya oleh Sultan Haji Hasan al-Bolkiah. Beliau digolongkan sebagai salah satu Syekh terbesar Tarekat Naqsybandi di Malaysia. Di Pakistan, beliau dikenal sebagai penyegar akan Tarekat Sufi dan beliau mempunyai ribuan murid. Di Sri Lanka, di antara pemerintahan dan rakyat biasa, beliau mempunyai lebih dari 20.000 (dua puluh ribu) murid. Di antara muslim Singapura, beliau juga amat dihormati.

Pada tahun 1991, untuk pertama kalinya beliau mengunjungi Amerika. Lebih dari 15 negara bagian beliau kunjungi. Beliau bertemu dengan banyak kalangan masyarakat dari berbagai aliran dan agama-agama: Muslim, Kristen, Yahudi, Sikh, Buddha, Hindu, New age, dan lain-lain. Hal ini membuahkan berdirinya lebih dari 13 pusat-pusat Tarekat Naqsybandi di Amerika Utara. Kunjungan kedua pada tahun 1993, beliau mendatangi berbagai daerah dan kota-kota, masjid-masjid, gereja, sinagog, dan candi-candi. Melalui beliau, lebih dari 10.000 rakyat Amerika Utara telah masuk Islam dan ber-bay`at dalam Tarekat Naqsybandi.

Pada bulan Oktober 1993, beliau menghadiri peresmian kembali masjid dan sekolah Imam Bukhari di Bukhara, Uzbekistan. Beliau adalah orang pertama di antara banyak generasi Imam Bukhari yang mampu mengembalikan daerah pusat para awliya di Asia Tengah yang sangat kuat mengabadikan nama dan ajarannya dalam Tarekat ini.

Syekh Nazim QS bersama istrinya (Hajah Amina QS, w.2004), dan kedua putrinya (di depan) di rumah beliau di Siprus. Sebagai seorang Syekh dari Tarekat Mawlawiyyah, Syekh Nazim QS mengenakan turban tradisional yang merupakan ciri khasnya, dililitkan pada sikke Mawlawiyyah yang tinggi.

Sebagaimana Syah Naqsyband QS sebagai pelopor di daerah Bukhara dan Asia Tengah, juga Ahmad as-Sirhindi al-Mujaddidi QS pelopor di milenium ke-2, dan Khalid al-Baghdadi QS pelopor kebangkitan Islam, syariat, dan Tarekat di Timur Tengah; maka Syekh Nazim Adil al-Haqqani QS adalah pelopor, pembaharu dan penyeru umat agar kembali pada Tuhannya di abad ini, abad perkembangan teknologi dan materialisme.

Pada tahun 1991 beliau memulai perjalanannya ke Amerika. Dalam perjalanannya, beliau mengunjungi lebih dari 15 negara bagian. Beliau berjumpa dengan orang-orang dari berbagai agama dan kepercayaan, mencakup umat Muslim, Kristen, Yahudi, Sikh, Buddha, Hindu dan penganut New Age. Kunjungan ini menimbulkan berdirinya lebih dari 15 majelis Tarekat Naqsybandi di Amerika Utara. Beliau melakukan kunjungan kedua pada tahun 1993. Beliau bepergian ke berbagai kota, mengunjungi masjid, gereja, sinagoga dan kuil. Melalui beliau, lebih dari 10.000 orang masuk Islam dan menjadi pengikut Tarekat Naqsybandi.

Syekh Nazim QS bersama Sultan Brunei (kiri) dan Pengeran dari Malaysia, Raja Ashman (kanan).

Pada tahun 1986 beliau terpanggil untuk berkunjung ke Timur Jauh: Brunei, Malaysia, Singapura, India, Pakistan, Sri Lanka. Beliau mengunjungi setiap kota besar di negara-negara tersebut. Beliau disambut oleh Sultan, Presiden, anggota parlemen, para pejabat pemerintah dan tentu saja oleh khalayak umum di mana-mana. Di Brunei beliau dianggap sebagai wali di zaman ini, beliau mendapat sambutan yang hangat di negara itu, khususnya oleh Sultan, Haji Hasanal Bolkiah. Di Malaysia, beliau dianggap sebagai salah satu dari wali besar dalam Tarekat Naqsybandi. Di Pakistan, beliau dikenal sebagai Pembangkit Tarekat dan mempunyai ribuan murid di sana. Di Sri Lanka, beliau memiliki lebih dari 20.000 murid, dari kalangan pejabat dan masyarakat umum. Beliau sangat dihormati di Singpura dan mempunyai banyak murid di sana.
Kediaman Syekh Nazim QS tidak pernah sepi pengunjung. Sedikitnya 100 orang pengunjung datang setiap harinya. Beliau melayani mereka semuanya.


Khalwat Syekh Nazim QS

Khalwat pertama beliau atas perintah Syekh Abdullah ad-Daghestani QS pada tahun 1955 di Sueileh, Yordania. Beliau ber-khalwat selama 6 bulan. Kekuatan dan kemurnian dalam setiap kehadiran beliau mampu menarik ribuan murid di Sueileh dan desa-desa sekitarnya, Ramta dan Amman menjadi penuh oleh murid-muridnya. Ulama, pejabat resmi dan banyak kalangan tertarik akan pencerahan dan kepribadian beliau.

Ketika baru mempunyai 2 orang anak, satu perempuan dan satu laki-laki, Syekh Nazim QS dipanggil oleh Grandsyekh Abdullah QS. “Aku menerima perintah dari Nabi SAW untukmu agar melakukan khalwat di masjid Abdul Qadir Jailani QS di Baghdad. Pergilah ke sana dan lakukan khalwat selama 6 bulan.”

Syekh Nazim QS bercerita mengenai peristiwa ini:

Aku tidak bertanya apa pun pada Grandsyekh. Aku bahkan tidak pulang ke rumah. Aku langsung melangkahkan kakiku menuju Marja, di dalam kotanya. Tidak pernah terlintas dalam benakku ‘aku butuh pakaian, uang atau makanan.’ Ketika beliau berkata ‘Pergilah!’ maka aku segera pergi. Aku memang ingin melakukan khalwat bersama Syekh Abdul Qadir Jailani QS.

Ketika sampai di kota, aku melihat seorang laki-laki yang sedang menatapku. Dia mengenalku. “Syekh Nazim QS, anda mau kemana?“ “Ke Baghdad,” jawabku. Ternyata dia adalah murid Grandsyekh. “Saya juga mau ke sana.” Kami pun berangkat dengan naik truk yang penuh dengan muatan barang untuk dikirim ke Baghdad.

Ketika memasuki masjid Syekh Abdul Qadir Jailani QS, ada seorang laki-laki tinggi besar yang berdiri di pintu. Dia memanggilku, ”Syekh Nazim QS!” “Ya,” jawabku. “Saya ditunjuk untuk melayani anda selama tinggal di sini. Mari ikut saya.” Sebenarnya aku terkejut akan hal ini, namun dalam Tarekat segala hal telah diatur dalam Kehendak Ilahi. Aku mengikutinya sampai ke makam sang Ghawts. Aku mengucapkan salam pada kakek buyutku, Syekh Abdul Qadir Jailani QS.

Sambil menunjukkan kamarku, orang itu mengatakan, ‘‘Setiap hari aku akan memberimu semangkuk sup dan sepotong roti.’’

Aku keluar dari kamar hanya untuk menunaikan salat 5 waktu saja. Aku mencapai sebuah maqam di mana aku mampu khatam al-Qur’an dalam waktu 9 jam. Setiap harinya aku membaca La ilaha ill-Allah SWT 124.000 kali dan shalawat 124.000 kali, ditambah membaca seluruh Dalail al-Khayrat, dan membaca 313.000 kali Allah SWT, Allah SWT, dan seluruh ibadah yang dibebankan padaku. ‘Pengelihatan-pengelihatan spiritual’ mulai bermunculan mengantarku dari satu maqam ke maqam lain sampai akhirnya aku menjadi fana’ dalam Hadirat Allah SWT.

Suatu hari aku mendapat pengelihatan bahwa Syekh Abdul Qadir Jailani QS memanggilku menuju makamnya. Kata beliau, ‘Wahai cucuku, aku sedang menunggumu di makamku, datanglah!” Aku bergegas mandi, salat 2 rakaat dan berjalan menuju makam beliau yang hanya beberapa langkah dari kamarku. Sesampainya disana, aku mulai bermuraqaba. “As-salam alayka ya jaddi’ (semoga kedamaian tercurah padamu, wahai kakekku).“ Segera aku melihat beliau keluar dari makam dan berdiri di sampingku. Di belakang beliau ada sebuah singgasana indah yang dihiasi batu-batu mulia. Kata beliau, “Mendekat dan duduklah bersamaku di singgasana itu.”

Kami duduk layaknya seorang kakek dan cucunya. Beliau tersenyum dan mengatakan, “Aku bahagia denganmu, Nazim Effendi QS. Maqam Syekhmu, Abdullah al-Faiz ad-Daghestani QS amat tinggi dalam Tarekat Naqsybandi. Aku ini kakekmu. Sekarang aku turunkan padamu, langsung dariku, kekuatan yang dipegang oleh Ghawts. Aku bay’at kamu dalam Tarekat Qadiriah sekarang.”

Kemudian Grandsyekh nampak di hadapanku, Nabi SAW pun hadir, juga Syah Naqsyband QS. Syekh Abdul Qadir Jailani QS berdiri memberi hormat pada Nabi SAW beserta para Syekh yang hadir, aku pun melakukannya.

Beliau berkata,

‘Ya Nabi SAW, ya Rasulullah SAW, aku adalah kakek dari cucuku ini. Aku bahagia dengan kemajuannya dalam Tarekat Naqsybandi dan aku ingin menambahkan Tarekat Naqsybandi pada maqamku.‘

Nabi SAW tersenyum dan melihat pada Syah Naqsyband QS, selanjutnya Syah Naqsyband QS melihat pada Grandsyekh Abdullah QS. Inilah adab pimpinan yang baik, karena Syekh Abdullah QS yang masih hidup pada saat itu. Grandsyekh menerima rahasia Tarekat Naqsybandi yang diterima beliau dari Syah Naqsyband ق melalui silsilah Nabi SAW, dari Abu Bakar ash-Shiddiq RA, agar ditambahkan pada maqam Syekh Abdul Qadir Jailani RA.

Ketika Syekh Nazim QS merampungkan khalwat-nya, dan akan segera meninggalkan makam kakeknya dan mengucapkan salam perpisahan. Syekh Abdul Qadir Jailani QS muncul dan memperbarui bay’at Syekh Nazim QS dalam Tarekat Qadiriah. Kata Kakeknya, “Cucuku, aku akan memberimu kenang-kenangan karena telah berkunjung ke sini.” Beliau memeluk Syekh Nazim QS dan memberinya 10 buah koin yang merupakan mata uang pada zaman beliau hidup. Koin itu masih disimpan Syekh Nazim QS sampai hari ini.

Sebelum pergi, Syekh Nazim QS memberi tanda kenangan jubah pada Syekh yang telah melayani beliau selama khalwat di sana. “Aku memakai jubah ini selama khalwat, sebagai alas tidurku, bahkan juga saat salat dan zikir. Simpanlah, Allah SWT beserta Nabi SAW akan memberkahimu.” Syekh itu mengambil jubah, menciumnya dan memakainya. Syekh Nazim QS meninggalkan Baghdad dan kembali ke Damaskus, Syria.

Pada tahun 1992, ketika Syekh Nazim QS mengunjungi Lahore, Pakistan; beliau berziarah ke makam Syekh Ali Hujwiri QS. Lalu salah seorang Syekh dari Tarekat Qadiriah mengundang beliau ke rumahnya. Syekh Nazim QS menginap di sana. Setelah Salat Subuh, tuan rumah itu mengatakan:

‘Wahai Syekh, aku memintamu menginap malam ini untuk menunjukkan padamu sebuah jubah berharga yang kami warisi sejak 27 tahun yang lalu. Diwariskan dari seorang Syekh besar dari Tarekat Qadiriah dari Baqhdad sampai akhirnya berada di tangan kami. Semua Syekh kami menyimpan dan menjaganya karena dulunya ini adalah jubah pribadi dari ‘Ghawts’ pada masa itu.

Seorang Syekh Turki dari Tarekat Naqsybandi ber-khalwat di masjid-makam Syekh Abdul Qadir Jailani QS. Setelah selesai, beliau berikan jubah ini sebagai hadiah karena sudah melayaninya selama khalwat. Syekh Qadiriah pemegang jubah ini mengatakan pada penerusnya ketika akan meninggal agar menjaganya, karena siapa pun yang mengenakan jubah itu, segala penyakitnya akan sembuh. Setiap murid yang mengenakan jubah ini dalam perjalanannya menuju Hadirat Ilahi akan mudah terangkat dalam tingkat kasyf.’

Beliau membuka almari dan memperlihatkan sebuah jubah yang disimpan di kotak kaca. Dia keluarkan jubah itu. Syekh Nazim QS tersenyum melihatnya. Syekh Qadiriah itu bertanya pada Syekh Nazim QS, ”Apakah sebenarnya ini, Syekh?“

Syekh Nazim QS menjawab, “Hal ini membuatku bahagia. Jubah ini aku berikan pada Syekh Tarekat Qadiriah saat aku selesai khalwat.”

Ketika mendengar hal ini, Syekh tersebut mencium tangan Syekh Nazim QS dan meminta bay’at di dalam Tarekat Naqsybandi.


Khalwat di Madinah

Sering kali Syekh Nazim QS diperintahkan untuk melakukan khalwat dengan kurun waktu antara 40 hari sampai setahun. Tingkatan khalwat-nya juga berbeda-beda, mulai diisolasi dari kontak dunia luar, salat, atau hanya diperkenankan adanya kontak saat melaksanakan zikir atau pertemuan karena memberi kajian. Beliau sering melaksanakan khalwat di kota Nabi SAW. Beliau mengatakan,

‘Tidak seorang pun diberi kehormatan melakukan khalwat bersama Syekh mereka. Aku mendapatkan kesempatan ini berada dalam satu ruangan dengan Syekh Abdullah QS di Madinah. Sebuah ruangan kuno dekat masjid suci Nabi Muhammad SAW. Di sana terdapat satu pintu dan sebuah jendela. Segera setelah kami memasuki ruangan itu, Syekh menutup jendela rapat-rapat dan beliau mengizinkan aku keluar hanya pada saat menunaikan salat 5 waktu di Masjid Nabi SAW.

Beliau mengingatkan aku agar ‘mengawasi langkah/ nazar bar qadam’ ketika dalam perjalanan menuju tempat salat. Dengan disiplin dan mengontrol pengelihatan kita berarti memutuskan diri dari segala hal kecuali pada Allah SWT Yang Maha Kuasa dan Maha Besar beserta Nabi-Nya SAW.

Syekh Abdullah QS tidak pernah tidur selama khalwat berlangsung. Selama satu tahun aku tidak pernah melihat beliau tidur dan menyentuh makanan. Hanya semangkuk sup dan sepotong roti disediakan untuk kami setiap harinya. Beliau selalu memberikan bagiannya kepadaku. Beliau hanya minum air dan tidak pernah meninggalkan ruangan itu.

Malam demi malam, hari demi hari, Grandsyekh duduk membaca Qur’an hanya dengan penerangan lilin, berzikir dan mengangkat tangannya dalam do’a. Kadang aku tidak mengerti apa yang beliau ucapkan karena beliau menggunakan bahasa surgawi. Aku hanya mampu memahaminya lewat ilham dan pengelihatan yang datang pada hatiku.

Aku tidak tahu kapan saatnya malam atau pun siang kecuali saat salat. Grandsyekh tidak pernah melihat sinar matahari selama setahun penuh, kecuali cahaya dari lilin. Dan aku melihat cahaya matahari hanya ketika pergi untuk salat.

Melalui khalwat tersebut, spiritualitasku meningkat ke tingkatan yang berbeda-beda. Suatu hari aku mendengar beliau mengatakan, ‘Ya Allah SWT, berilah aku kekuatan “Ghawts”/perantara/penolong, dari kekuatan yang Engkau berikan pada Nabi-Mu SAW untuk meminta ampunan-Mu bagi seluruh umat manusia saat kiamat nanti dan mengangkat mereka menuju Hadirat-Mu.’

Ketika beliau mengatakan hal ini, aku mengalami ‘pengelihatan’ keadaan di saat hari kiamat. Allah SWT turun dari `Arsy-Nya dan mengadili umat manusia. Nabi SAW berada di samping kanan-Nya. Grandsyekh berada di sebelah kanan Nabi SAW, dan aku berada di sebelah kanan Grandsyekh.

Setelah Allah SWT mengadili umat manusia, Dia memberi wewenang Nabi SAW untuk menjadi perantara ampunan-Nya. Ketika Nabi SAW selesai melakukannya, beliau meminta Grandsyekh untuk memberi barakahnya dan mengangkat mereka dengan kekuatan spiritual yang telah diberikan. Pengelihatan itu berakhir dan aku mendengar Grandsyekh mengatakan, ‘alhamdulillah, alhamdulillah, Nazim Effendi QS, aku sudah mendapat jawabannya.’

Suatu hari setelah selesai Salat Subuh Grandsyekh mengatakan, ‘Nazim Effendi QS, lihat!’ Ke mana harus kulihat, atas, bawah, kanan atau kiri? Ternyata ada di bagian hati beliau. Sebuah pengelihatan muncul. Aku melihat Syekh Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS muncul dengan tubuh fisiknya dan mengatakan padaku, ’Oh anakku, Syekh-mu memang unik. Tidak ada yang seperti dia sebelumnya.‘ Kemudian kami diajak beliau ke tempat lain di bumi ini.

‘Allah SWT memintaku untuk pergi ke batu itu dan memukulnya’ sambil menunjuk sebuah batu. Ketika beliau memukulnya, sebuah semburan air memancar deras keluar dari batu itu. Kata beliau, ‘Air itu akan terus memancar seperti ini sampai kiamat nanti, dan Allah SWT mengatakan padaku bahwa pada setiap tetes air ini Dia ciptakan satu malaikat bercahaya yang akan selalu memuji-Nya sampai kiamat nanti.’

Allah SWT berfirman, ‘Wahai hamba-Ku, Abdul Khaliq al-Ghujdawani QS, tugasmu adalah memberi nama para malaikat ini dengan nama yang berbeda dan tidak boleh ada pengulangan. Hitung pula berapa kali pujian-pujian mereka, kemudian bagikan pada seluruh pengikut Tarekat Naqsybandi. Itulah tanggung jawabmu.” Aku takjub akan beliau beserta tugas luar biasa yang diembannya.

Pengelihatan itu terus berlanjut serasa menghujaniku. Pada hari terakhir khalwat kami setelah Salat Subuh aku mendengar suara-suara dari arah luar ruangan kami. Suara orang dewasa dan suara anak-anak menangis. Tangisan itu semakin menjadi-jadi dan berlangsung berjam-jam. Aku tidak tahu siapa yang menangis karena tidak diizinkan untuk melihatnya. Grandsyekh bertanya, “Nazim Effendi QS, tahukah kamu siapa yang sedang menangis?” Walaupun aku tahu bahwa itu bukan tangisan manusia, namun aku menjawab, ”Oh Syekh, engkaulah yang lebih mengetahuinya.” “Setan mengumumkan pada komunitasnya bahwa 2 manusia di bumi ini telah lolos dari kendalinya.”

Kemudian aku melihat setan dan bala tentaranya telah dirantai dengan rantai surgawi untuk mencegah mereka mendekati Syekh dan aku. Pengelihatan itu berakhir. Grandsyekh meletakkan tangannya di dadaku sambil mengatakan, ”Alhamdulillah, Nabi SAW bahagia terhadap kau dan aku.”

Lalu aku melihat Nabi Muhammad SAW beserta 124.000 nabi-nabi lain, 124.000 sahabat-sahabatnya, 7007 awliya-awliya Naqsybandi, 313 awliya agung, 5 Qutub dan Ghawts. Semuanya memberi selamat kepadaku. Mereka mengalirkan dalam hatiku ilmu spiritual mereka. Aku mewarisi dari mereka rahasia-rahasia Tarekat Naqsybandi dan 40 Tarekat-Tarekat lainnya.


Karamah Syekh Nazim QS

Pada tahun 1971, Syekh Nazim QS seperti biasa berada di Siprus selama 3 bulan; Rajab, Sya`ban, dan Ramadan. Suatu hari di bulan Sya`ban, kami mendapat telepon dari bandara di Beirut. Ternyata dari Syekh Nazim QS yang meminta kami untuk menjemputnya. Kami terkejut karena tidak mengira beliau akan datang.

“Aku diminta Nabi SAW untuk menemuimu hari ini karena ayahmu akan wafat. Aku yang akan memandikan jenazahnya, mengkafani dan menguburkannya lalu kembali ke Siprus.“

“Oh Syekh, Ayah kami dalam keadaan sehat. Tidak ada sesuatu terjadi pada beliau.” “Itulah yang dikatakan padaku,” jawab beliau dengan amat yakin. Kami pun menyerah saja karena apa pun yang dikatakan Syekh, kami harus menerimanya.

Beliau meminta kami mengumpulkan seluruh keluarga untuk melihat ayah kami terakhir kalinya. Kami mempercayainya dan melaksanakannya walaupun ada yang terkejut dan ada yang tidak mempercayainya saat kami memanggilnya. Ada yang hadir dan ada yang tidak. Ayah saya tidak mengetahui masalah ini, hanya melihat kunjungan keluarga sebagai hal yang biasa. Jam tujuh kurang seperempat. Kata Syekh Nazim QS, ”Aku harus naik ke apartemen ayahmu untuk membaca Surat Ya Sin tepat ketika beliau wafat.” Lalu beliau naik dari flat kami di bawah. Ayah saya memberi salam pada Syekh Nazim QS, lalu mengatakan, ”Wahai Syekh Nazim QS, sudah lama kami tak mendengar engkau membaca Qur’an. Maukah engkau melakukannya untuk kami?” Syekh Nazim QS pun mulai membaca Surat Ya Sin. Ketika beliau selesai membacanya, jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh. Persis ketika ayahku berteriak, ”Jantungku, jantungku...!!” Kami merebahkan beliau, kedua saudaraku yang sama-sama dokter memeriksa ayah. Jantungnya berdebar keras tak terkontrol dan dalam hitungan menit, beliau menghembuskan nafas terakhirnya.

Semua orang melihat pada Syekh Nazim QS dengan takjub dan keheranan. “Bagaimana beliau mengetahuinya? Wali macam apakah beliau? Bagaimana bisa dari Siprus, beliau datang hanya untuk hal ini? Rahasia seperti apakah yang ada di hatinya?“

Rahasia yang disimpan beliau adalah berkat kasih-sayang Allah SWT pada beliau. Allah SWT memberi wewenang akan kekuatan dan ramalan karena beliau memelihara keikhlasan, ketaatan, dan kesetiaan pada agama Allah SWT. Beliau menjaga kewajiban dan ibadahnya. Beliau menghormati al-Quran. Beliau sama dengan seluruh awliya Naqsybandi sebelumnya, seperti halnya seluruh awliya Tarekat lain dan para leluhurnya, Syekh Abdul Qadir Jailani QS dan Jalaluddin Rumi QS dan Muhyiddin Ibn Arabi QS yang menaati tradisi-tradisi Islam selama 1400 tahun. Dengan cinta Ilahi itu beliau akan dianugerahi pengetahuan Ilahiah, kebijaksanaan, spiritualitas dan segala hal. Beliau akan menjadi orang yang mengetahui akan masa lalu, saat ini dan masa depan.

Kami merasa terperangkap di antara dua emosi. Satu, karena tangis kesedihan kami akan wafatnya ayah dan yang kedua kebahagiaan atas apa yang diperbuat oleh guru kami pada almarhum ayah. Kedatangan beliau demi ayah kami pada akhir hayatnya tidak akan pernah kami lupakan. Beliau memandikan jasad dengan tangan beliau yang suci. Setelah semua tugas dijalankan, beliau kembali lagi ke Siprus tanpa diundur.

Syekh Nazim QS memimpin zikir Tarekat Naqsybandi, Khtam Khwajagan di Masjid Peckham yang dulunya merupakan Gereja Katedral St. Mark di London.

Suatu ketika Syekh Nazim QS mengunjungi Libanon selama 2 bulan pada musim haji. Gubernur kota Tripoli, Libanon yang bernama Ashar ad-Danya merupakan pemimpin resmi suatu kelompok haji. Beliau menawari Syekh Nazim QS untuk pergi bersama menunaikan ibadah haji. Kata Syekh, ”Saya tidak bisa pergi dengan anda, tetapi insya Allah, kita akan bertemu di sana.”

Gubernur tetap memaksa. “Jika Anda pergi, pergilah dengan saya. Jangan dengan orang lain.” Syekh Nazim QS menjawab, ”Saya tidak tahu apakah saya akan pergi atau tidak.”

Ketika musim haji telah usai dan gubernur telah kembali, beliau segera menuju ke rumah Syekh Nazim QS. Di hadapan sekitar 100 orang, kami mendengar beliau mengatakan, ”Oh Syekh Nazim QS, mengapa anda pergi dengan orang lain dan tidak bersama kami?” Kami pun menjawab, ”Syekh tidak pergi haji. Beliau bersama kami di sini selama 2 bulan berkeliling Libanon.”

Gubernur berkata, ”Tidak! Beliau pergi haji, kami punya saksi-saksi. Waktu itu saya sedang thawaf dan Syekh Nazim QS mendatangiku lalu mengatakan, ’Oh Ashur, anda di sini?’ Saya mengiyakan dan kami melakukan thawaf bersama-sama. Beliau menginap di hotel kami di Mekah. Dan menghabiskan siang hari bersama di tenda kami di Arafat. Beliau juga menginap bersama saya di Mina selama 3 hari. Lalu beliau mengatakan, ‘Aku harus ke Madinah mengunjungi Nabi SAW.’

Kemudian kami menatap Syekh Nazim QS yang menampakkan senyum khasnya dan seakan-akan mengatakan, “Itulah kekuatan yang dianugerahkan Allah SWT pada para awliya-Nya. Bila mereka berada di jalan-Nya, meraih cinta-Nya dan Hadirat-Nya, Allah SWT akan menganugerahi segala hal.”

“Oh Syekhku, karamah yang engkau tunjukkan pada kami adalah sangat luar biasa. Tidak pernah aku melihatnya selama hidupku. Aku ini seorang politikus. Aku percaya pada akal dan logika. Kini aku harus mengakui bahwa anda bukanlah orang biasa. Anda mempunyai kekuatan supranatural. Sesuatu yang Allah SWT sendiri anugerahkan pada anda!”

Gubernur itu mencium tangan Syekh Nazim QS dan meminta bay’at di dalam Tarekat Naqsybandi. Kapan pun Syekh Nazim QS mengunjungi Libanon, gubernur dan perdana mentri Libanon akan duduk dalam komunitas Syekh Nazim QS. Sampai saat ini, keluarga-keluarga beliau dan masyarakat Libanon menjadi pengikut Syekh Nazim QS.


Kata-Kata Syekh Nazim QS

Tentang Keesaan Tuhan Yang Khas, Syekh Nazim QS mengatakan bahwa mustahil adanya kemajemukan:

Keesaan yang unik dari Dzat-Nya; Dzat-Nya tidak berlipat atau tidak merupakan gabungan dari dua bagian atau lebih, dan tidak ada yang mirip dengan Dzat Ilahiah-Nya.

Keesaan akan Sifat-Sifat-Nya, artinya Allah SWT tidak memiliki dua sifat yang mewakili sesuatu yang sama. Sebagai contoh, Dia tidak mempunyai dua Kehendak. Dia Satu dalam segala sifat-Nya.

Keesaan dalam segala Tindakan-Nya; berarti Dia-lah Sang Pencipta dari Kehendak-Nya sendiri dan dari Takdir-Nya sendiri atas segala yang nampak di jagad raya ini. Seluruh ciptaan-Nya baik itu dari substansi, alasan ataupun perbuatan, adalah hasil kerja-Nya yang diperuntukkan bagi hamba-hamba-Nya.

Jika cinta itu benar, maka si pecinta harus menjaga kehormatan dan bertingkah laku yang seharusnya, bagi Dia, Yang dicintainya.

Keyakinan tertinggi dari kebenaran adalah ketika Syekh memuji hadirat-Nya di dalam mata kalian dan membatasi hal-hal lain selain Allah SWT.

Ada 3 naga besar yang dapat merusak manusia: tidak toleransi dan tidak sabar dengan orang-orang di sekitar kalian, menjadi terbiasa dengan sesuatu yang tidak bisa kalian tinggalkan, dan dikontrol oleh ego kalian.

Meraih kehormatan di dunia ini adalah tindakan memalukan. Kehormatan adalah meraih kehidupan akhirat. Saya heran pada mereka yang memilih memalukan diri sendiri demi kehormatan.

Bila Allah SWT membuka esensi Cinta Ilahiah-Nya, semua orang di bumi ini akan mati karena cinta itu.

Kita harus selalu melakukan hal-hal sebagai berikut: merenungkan ayat-ayat Allah SWT dalam kitab suci al-Qur’an dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang dapat menjadikan cinta berkembang dalam hati kita. Memikirkan segala janji dan pahala-Nya yang bisa membuat kita makin merindukan-Nya. Memikirkan ancaman dan hukuman-Nya akan membuat kita makin malu pada-Nya.

Allah SWT berfirman, “Siapapun yang sabar dengan kami maka akan berhasil mendekati Kami.”

Jika takut akan Allah SWT tertanam dalam hati, lidah tak akan mampu berkata-kata yang tidak ada manfaatnya.

Sufisme adalah penyucian terus-menerus menuju Hadirat Allah SWT. Esensinya adalah meninggalkan kehidupan materialistik ini.

Suatu saat Junayd QS melihat iblis dalam ‘penglihatannya.’ Setan itu telanjang. Junayd QS berkata, “Wahai setan yang terkutuk, tidakkah kamu malu terlihat telanjang oleh manusia?” Jawab setan, “Mengapa aku harus malu, sedang manusia pun tidak malu pada dirinya sendiri.”

Jika kalian bertemu dengan seorang pencari di jalan Allah SWT, dekati dia dengan ketulusan, kesetiaan dan kasih sayang. Jangan mendekatinya dengan ilmu. Ilmu akan membuat mereka liar pada awalnya namun kasih sayang akan membuat mereka cepat mendekatimu.

Seorang pencari seharusnya adalah mereka yang telah meninggalkan dirinya sendiri dan menghubungkan hatinya dengan Allah SWT. Mereka berdiri di hadapan-Nya ketika melaksanakan kewajiban-kewajiban sambil membayangkan Dia dalam hatinya. Nur Ilahi telah membakar hatinya yang membuat dia kehausan akan minuman ilahiah, membuka tirai matanya dan membuat dirinya melihat Tuhannya. Jika dia membuka bibirnya, berbuat sesuatu atau menjadi damai itu atas perintah-Nya dan manifestasi dari sifat-sifat-Nya. Dia sedang berada dalam Hadirat-Nya dan bersama-Nya.

Seorang sufi adalah orang yang melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah SWT yang disampaikan oleh Nabi SAW dan berusaha keras meningkatkan dirinya pada tingkat kesempurnaan yaitu Pengetahuan Allah SWT Yang Maha Kuasa dan Maha Agung.

Sufisme adalah sebuah pengetahuan dari mereka yang mempelajari tahapan umat manusia baik dari pujian maupun hinaan. Jika berupa hinaan, dia belajar untuk menyucikannya sehingga menjadi pujian dalam perjalanan-Nya menuju Hadirat Allah SWT. Buah dari itu semua adalah berkembangnya qalbu akan: Pengetahuan tentang Allah SWT, melalui pengalaman langsung, keselamatan di akhirat kelak, tercapainya kenikmatan Ilahiah dan kebahagiaan abadi, pencerahan dan penyucian sehingga hal-hal luhur itu tersingkap dengan sendirinya, maqam-maqam terkuak dan dia memahami apa yang tidak terlihat bagi orang lain.

Sufisme bukanlah semacam penghambaaan tertentu, namun lebih pada melekatnya hati pada Tuhan. Penyatuan semacam itu tetap mengutamakan standard syariah, maka dia harus melaksanakannya. Itulah sebabnya kita temui para sufi melayani Islam dalam kapasitas yang luas dan beraneka ragam. Ulama Islam harus mendapat pendidikan lebih tinggi lagi akan sufisme.


Prediksi Grandsyekh `Abdullah ad-Daghestani QS tentang Syekh Nazim QS

Sebelum Grandsyekh `Abdullah QS wafat, beliau menulis dalam wasiatnya:

Atas perintah Nabi Muhammad SAW, aku telah melatih dan meningkatkan ilmu penerusku, yaitu Nazim Effendi QS dan memerintahkan dia dalam berbagai khalwat dan latihan, maka aku menunjuk dia sebagai penerusku. Di masa depan aku melihat dia akan menyebarkan Tarekat ini lewat Timur dan Barat. Tuhan akan membuat berbagai lapisan masyarakat, dari kaya, miskin, ulama dan politikus mendatanginya, belajar darinya dan masuk dalam Tarekat Naqsybandi, yaitu dari akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Dan hal ini akan menyebar ke seluruh dunia, tak ada satu kepulauan pun yang terlewat akan manis dan harumnya.

Aku melihatnya mengokohkan dan mendirikan markas-markas besar di London di mana dari situ akan menyebarkan Tarekat ini di Eropa, Timur Jauh dan Amerika. Dia akan menebarkan ketulusan, cinta, kepatuhan, harmoni dan kebahagiaan di tengah masyarakat. Mereka akan meninggalkan keburukan, terorisme dan politik. Dia akan menebar pengetahuan akan perdamaian di dalam hati, komunitas-komunitas, dan negara-negara agar peperangan dan persaingan diangkat dari muka bumi dan perdamaian menjadi faktor yang mendominasi. Aku melihat generasi muda mendatanginya dari berbagai penjuru meminta barakahnya. Dia akan mengajari mereka agar melaksanakan kewajiban agama Islam, hidup sederhana dan hidup damai dengan penganut agama apa pun, dan agar meninggalkan kebencian serta permusuhan. Agama adalah bagi Allah SWT, dan Dia yang mengadili hamba-hamba-Nya.

Ramalan itu telah terjadi sebagaimana yang diterangkan Grandsyekh `Abdullah QS. Ketika Grandsyekh meninggal pada tahun 1973, Mawlana Syekh Nazim QS mengadakan perjalanan pulangnya yang pertama ke Turki, mengunjungi Bursa lalu ke London. Banyak generasi muda terutama pengikut John Bennet datang menemui beliau. Ketika mulai banyak orang berdatangan ingin mendengarkan nasihat beliau, maka didirikanlah pusat dakwah pertamanya pada tahun 1974.

Beliau melanjutkan kunjungan pertamanya di Inggris dan kepulauannya selama dan setelah masa Ramadan. Tarekat ini menyebar luas, menembus seluruh Eropa, Amerika, Kanada dan Amerika Selatan. Beliau membuka 3 pusat dakwah di London untuk melatih spiritualitas bagi orang-orang, melenyapkan depresi dan menolong mereka menuju kedamaian di hati masing-masing. Dakwah beliau berlanjut ke seluruh bagian Eropa, Afrika Utara dan Selatan, negara-negara Teluk, Amerika Utara dan Selatan serta kepulauan India, Asia tenggara, Rusia dan beberapa bagian di China, Australia serta Selandia Baru.

Pada kunjungan pertamanya ke Amerika, Syekh Nazim QS dikunjungi Pir Wilayat Khan di Pusat Spiritualnya di New York.

Kalian mungkin tidak menemukan negara-negara yang kami sebutkan atau yang belum kami sebutkan di mana sentuhan Syekh Nazim QS belum terasa. Inilah perbedaan antara beliau dengan awliya-awliya lain yang masih hidup dan yang sebelumnya. Kalian akan menemui segala bahasa diucapkan di hadapan beliau. Setiap tahun di bulan Ramadan, pertemuan besar para pengikut beliau diadakan di London yang dihadiri lebih dari 5.000 orang dari seluruh dunia. Seperti firman Allah SWT, “Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.” [49:13]

Pengikut beliau berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Miskin, menengah, kaya, pengusaha, dokter, pengacara, psikiater, astronom, tukang pipa, tukang kayu, menteri, politikus, senator, anggota parlemen, perdana mentri, presiden, raja, dan dari berbagai kesultanan. Semua tertarik akan kesederhanaan, senyum, aura dan spiritualitas beliau. Syekh Nazim QS terkenal sebagai Syekh multibudaya dan unversal. Perkataan-perkataan dan ceramahnya dikumpulkan dan diterbitkan dalam berbagai buku termasuk serial Mercy Oceans dan lebih dari 35 judul lainnya. Ribuan rekaman video dan ribuan jam ceramahnya juga telah didokumentasikan.

Hidup beliau selalu terlihat aktif. Beliau seorang musafir di jalan Tuhan, tidak pernah menetap di rumah, selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Suatu hari beliau berada di Timur, besoknya berada di Barat. Kalian tidak akan tahu beliau akan berada di mana hari ini dan selanjutnya. Beliau selalu menemui berbagai instansi untuk rekonsiliasi dan pemeliharaan lingkungan alam. Beliau selalu menanamkan benih-benih cinta, kedamaian dan keharmonisan di hati-hati umat manusia. Kami berharap dengan semangat ajarannya, seluruh agama akan berada dalam harmoni dan kedamaian.

Prediksi Syekh Nazim QS tentang masa yang akan datang adalah melanjutkan apa yang diramalkan oleh Grandsyekh `Abdullah QS. Dengan membeberkan kejadian sebelum terjadi, mengingatkan masyarakat dan membawa perhatian mereka akan hal yang akan datang. Sering beliau mengatakan, “Komunisme akan berakhir, Uni Soviet akan terpecah menjadi negara-negara kecil.” Beliau juga meramalkan bahwa Tembok Berlin akan runtuh.


Rahasia Silsilah Emas Tarekat Naqsybandi berada di dalam tangannya. Beliau menggenggamnya dengan kekuatan yang sangat tinggi. Berkilau di semua tempat. Semoga Allah SWT merahmati beliau, menguatkan beliau dalam pekerjaan sucinya. Semoga Allah SWT mengirimkan lebih banyak kedamaian, barakah, keselamatan dan sinar atas Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabat. Juga pada semua nabi, awliya khususnya hamba-hamba-Nya yang taat di dalam Tarekat Naqsyabandi dan semua Tarekat Sufi khususnya sahabat Allah SWT pada era kita, Syekh Nazim al-Haqqani QS.

Tidak ada komentar: